Industri Farmasi : Berubah atau Mati !

Industri Farmasi : Berubah atau Mati !

Industri farmasi, termasuk salah satu industri yang masuk dalam golongan industri “samudera biru” (blue ocean industry). Betapa tidak, selama puluhan tahun, industri ini menikmati pertumbuhan (sekaligus keuntungan) yang luar biasa. Saham-saham industri farmasi, selama berpuluh-puluh tahun menjadi saham blue chip yang diburu oleh banyak investor kelas kakap. Bahkan – konon – para eksekutif perusahaan farmasi raksasa dunia (yang sering di sebut Big Farma), memiliki “hubungan khusus” dengan para politisi di lembaga legislatif/parlemen dan pejabat tinggi, baik di Amerika Serikat maupun Uni Eropa. Namun saat ini “cuaca” telah berganti. Lautan yang dulunya teduh, tenang dan damai, saat ini tengah dihantam topan badai maha dahsyat. Krisis ekonomi global yang merontokkan lembaga-lembaga keuangan internasional, mengimbas pula industri yang selama puluhan tahun “tak terjamah” krisis ini. Rontoknya perekonomian Amerika Serikat, memaksa negara adidaya ini “memangkas” anggaran kesehatannya hampir separohnya. Pasar farmasi dunia yang didominasi oleh pasar Amerika Serikat dan Uni Eropa pun terguncang. Lembaga-lembaga asuransi yang biasanya sangat royal membelanjakan uangnya untuk memburu obat-obat keluaran terbaru, mulai berpaling pada obat-obat generik yang di pasok dari negara-negara ketiga, seperti China dan India yang menawarkan harga jauh lebih murah. Di sisi yang lain, semakin sedikitnya obat-obat baru yang disetujui oleh FDA dalam beberapa tahun terakhir ini serta semakin banyaknya obat-obat blockbuster yang akan habis masa patennya dalam beberapa tahun ini, semakin menambah muram wajah para CEO industri farmasi raksasa dunia. Pertumbuhan pasar farmasi dunia, yang biasanya di atas 10% pertahun, tahun ini diperkirakan hanya akan tumbuh 4 – 6%  (IMS market review, 2008).

Pada saat yang sama, industri farmasi di Indonesia pun mengalami nasib serupa meskipun dengan latar belakang yang tak sama. Selama puluhan tahun, industri farmasi di Indonesia menikmati masa-masa “bulan madu”, merengguk manisnya bisnis yang berasa pahit ini. Betapa tidak, dengan jumlah penduduk yang demikian besar, tingkat pendidikan yang masih rendah, di tambah dengan perilaku masyarakatnya yang kurang memperhatikan pola hidup sehat, industri farmasi di Indonesia – terutama industri farmasi dalam negeri –  menangguk keuntungan yang luar biasa. Hal ini terlihat dari pertumbuhan pasar farmasi di Indonesia yang terus meningkat di atas 15% (bahkan beberapa tahun sebelumnya selalu di atas 20%). “Perselingkuhan yang saling menguntungkan” antara industri farmasi dengan dokter penulis resep, adalah hal yang sangat lumrah terjadi. Di saat industri farmasi asing (PMA) yang tergabung dalam IPMG (International Pharmaceutical Manufacturer Group) membuat kode etik pemasaran bagi para anggotanya, industri farmasi nasional (PMDN) malah semakin memperbesar budget pemasarannya untuk “menservis” para dokter agar mau menuliskan resep produk-produknya. Di sisi lain, adanya proteksi dari pemerintah yang memasukkan industri farmasi sebagai Daftar Hitam Investasi (DHI) dengan alasan melindungi industri farmasi dalam negeri, membuat industri farmasi di Indonesia hanya bisa menjadi “jago kandang”. Terbukti, jika pada tahun 1970 hingga tahun 1980-an, penguasa pasar farmasi di Indonesia adalah pabrik-pabrik farmasi asing seperti Bayer, Roche, Pfizer, Merck, dan sebagainya maka sejak tahun 1990-an, 10 besar penguasa pasar farmasi di Indonesia dikuasai oleh industri farmasi lokal, seperti Sanbe, Group Kalbe, Group Tempo, Dexa Medica, dan sebagainya.

Pabrik-pabrik lokal ini, terutama memanfaatkan obat-obat yang sudah habis masa patennya (sebagian kecil lainnya menjalin aliasi dengan menggunakan lisensi dari pemegang paten), dan memproduksi sendiri dengan nama dagang yang berbeda (branded generik).  Maka tidak heran industri farmasi dikenal sebagai “tukang jahit”  karena tidak memiliki basis industri bahan baku sendiri. Hampir 95% bahan baku yang digunakan adalah impor. Namun sekali lagi, cuaca telah berubah – langit tidak lagi cerah –  arus globalisasi mengalir dengan derasnya dan mulai mengancam “eksistensi” industri farmasi dalam negeri. Terbukti, dari hasil mapping industri farmasi yang dilakukan oleh Badan POM beberapa tahun lalu menunjukkan bahwa 42% industri farmasi di Indonesia TIDAK MEMENUHI SYARAT. Fokus industri farmasi nasional, selama ini lebih banyak tercurah untuk bagaimana supaya produknya laku, sedangkan “dapur”nya sendiri “lupa” untuk dibenahi. Dengan adanya Harmonisasi Pasar ASEAN tahun 2010 dan AFTA tahun 2015, mau tidak mau – suka tidak suka – industri farmasi harus berbenah, karena kalau tidak, pasti akan mati tergilas roda globalisasi.

Operasional Excellence

Dua kondisi di atas, baik industri farmasi raksasa dunia maupun industri farmasi nasional, membuka mata kita bahwa industri farmasi bukan lagi “blue ocean industry” namun sudah masuk dalam kategori “industri lautan merah yang berdarah-darah” (bloody red ocean industry). Sudah saatnya industri farmasi – terutama industri farmasi nasional – berganti haluan. Bagian Produksi – yang pada masa lalu kurang mendapat perhatian – bahkan di beberapa industri farmasi,  orang-orang pabrik hanya menjadi warga kelas dua, dibandingkan dengan orang-orang bagian Marketing atau R&D – mulai mendapat perhatian yang sangat serius. Dengan pasar yang semakin kompetitif, maka salah strategi untuk bisa memenangkan persaingan dan keluar dari red ocean ini adalah keunggulan kompetitif berupa keunggulan produk, kualitas, cost dan delivery. Strategi ini sering disebut dengan  Operasional Excellence (OpX). Operasional Excellence adalah filosofi tentang kepemimpinan, kerja sama tim dan pemecahan masalah yang mengakibatkan perbaikan terus-menerus di seluruh organisasi dengan berfokus pada kebutuhan pelanggan, memberdayakan karyawan dan mengoptimalkan kegiatan yang ada dalam proses produksi.

Tujuan utama dari Operasional Excellence adalah :

  • Perbaikan kualitas (improves quality)
  • Peningkatan hasil (Obtains higher yields)
  • Percepatan proses produksi (Faster throughput), dan
  • Pengurangan limbah/sisa (Less Waste)

Dalam bahasa yang lebih sederhana, Operasional Excellence adalah mengurangan limbah dan peningkatan nilai pada pelanggan.Coba sejenak kita renungkan kisah nyata berikut ini :

Salah satu produsen ponsel, Motorola, selama bertahun-tahun mencari terobosan agar bisa survive dalam bisnis ponsel yang kian kompetitif. Pada tahun 1986, Motorola mengembangkan suatu jurus yang disebut dengan Six Sigma (dikenalkan pertama kali oleh Bill Smith – coba cari sendiri di mbah Google). Jurus ini merupakan pengembangan dari metode TQM yang sudah lama dikenal dan dikembangkan oleh Toyota (pabrik pembuat mobil). Dengan menggunakan jurus ini, Motorola dapat menekan kerusakan hingga 3,4 kerusakan dari setiap sejuta kemungkinan (3,4 DPMO = 3,4 Deffect Per Million Opportunities) atau 0,00034%.  Bandingkan dengan industri farmasi yang rata-rata tingkat kerusakannya (rejection rate-nya) 5 – 10%.  Tidak mengherankan jika saat ini industri ponsel maupun industri semi-konduktor lainnya merupakan industri yang paling kompetitif di seluruh dunia.

Salah satu industri farmasi raksasa dunia yang sudah menerapkan Operasional Excellence adalah Pfizer Inc. Raksasa farmasi dari New York – Amerika Serikat ini mengembangkan jurus yang disebut Right First Time (RFT). Tidak heran bila industri farmasi ini, selama 10 tahun terakhir ini, menjadi industri farmasi yang paling banyak melahirkan produk-produk blockbuster dan mengambil alih posisi nomor wahid sebagai industri farmasi no. 1 dunia dari tangan Merck & Co. pada tahun 2000.

Jadi, wahai para industriawan/industriawati farmasi nasional, sudah saatnya kita berubah. Langit tidak lagi cerah ceria – petir telah menyambar – topan badai bakal menerjang – siapkanlah strategi yang tepat agar kapal tidak oleng dan tenggelam. Saatnya untuk berubah … atau kita akan tenggelam ditelan arus globalisasi yang sudah di depan mata.

About Ahmad Subagiyo Apoteker

Apoteker
This entry was posted in Farmasi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s