Perkembangan Terkini Teknologi Formulasi Sediaan Obat*)

Perkembangan Terkini Teknologi Formulasi Sediaan Obat*)

Pendahuluan

Industri farmasi merupakan salah satu industri yang mengalokasikan dana yang cukup besar untuk penelitian dan pengembangan dibandingkan dengan industri-industri lainnya. Dari data IMS Health World Review tahun 2004, industri farmasi membelanjakan tidak kurang dari US $ 100 Milyar pertahun untuk penelitian dan pengembangan. Dana terbesar (40%), terutama digunakan untuk uji klinik.

Proses penemuan obat baru merupakan sebuah rangkaian langkah yang sangat panjang dan melibatkan berbagai disiplin ilmu. Secara garis besar, penelitian dan pengembangan suatu obat dapat dibagi menjadi beberapa tahap sebagai berikut :

  1. Sintesis dan screening molekul
  2. Studi pada hewan percobaan
  3. Studi pada manusia yang sehat (healthy volunteers)
  4. Studi pada manusia yang sakit (pasien)
  5. Studi pada manusia yang sakit dengan populasi diperbesar
  6. Studi lanjutan (post marketing surveillance)

Sintesis dan Screening Molekul,  merupakan tahap awal dari rangkaian penemuan suatu obat. Pada tahap ini  berbagai molekul atau senyawa yang berpotensi sebagai obat disintesis, dimodifikasi atau bahkan direkayasa untuk mendapatkan senyawa atau molekul obat yang diinginkan. Oleh karena penelitian obat biasanya ditargetkan untuk suatu daerah terapeutik yang khas, potensi relatif pada produk saingan dan bentuk-bentuk sediaan untuk manusia bisa diketahui. Serupa dengan hal tersebut, ahli kimia medisinal mungkin mendalami kelemahan molekul tersebut sebagai hasil usaha untuk mensintesis senyawa tersebut. Selain itu, penelusuran literatur juga harus dilakukan untuk memberikan pengertian tentang mekanisme pelapukan yang mungkin terjadi dan kondisi-kondisi yang dapat meningkatkan peruraian obat. Informasi ini dapat menyarankan suatu cara stablilisasi, kunci uji stabilitas atau senyawa acuan stabilitas. Informasi tentang cara atau motode yang diusulkan dari pemberian obat, juga melihat kembali literatur tentang formulasi, bioavailabilitas, dan farmakokinetika dari obat-obat yang serupa, seringkali berguna bila menentukan bagaimana mengoptimumkan bioavailabilitas suatu kandidat obat baru.

Jika suatu senyawa atau molekul aktif telah dibuktikan secara farmakologis, maka senyawa tersebut selanjutnya memasuki tahap pengembangan dalam bentuk molekul optimumnya. Setelah sintesis, suatu senyawa atau molekul melalui proses screening, yang melibatkan pengujian awal obat pada sejumlah kecil hewan dari jenis yang berbeda (biasanya 3 jenis hewan) ditambah uji mikrobiologi untuk menemukan adanya efek senyawa kimia yang menguntungkan. Pada tahap ini sering kali dilakukan pengujian yang melibatkan teratogenitas, mutagenitas dan karsinogenitas, disamping pemeriksaan LD50 dan toksisitas akut dan kronik.

Uji praklinik merupakan persyaratan uji untuk calon obat. Dari uji ini diperoleh informasi tentang efficacy (efek farmakologi), profil farmakokinetik dan toksisitas calon obat. Pada mulanya yang dilakukan pada uji praklinik adalah pengujian ikatan obat pada reseptor dengan kultur sel terisolasi atau organ terisolasi, selanjutnya perlu diuji pada hewan utuh. Hewan yang baku digunakan adalah galur tertentu dari mencit, tikus, kelinci, marmot, hamster, anjing atau primata. Hewan-hewan ini sangat berjasa bagi pengembangan obat. Karena hanya dengan menggunakan hewan utuh dapat diketahui apakah obat menimbulkan efek toksik pada dosis pengobatan atau tidak. Penelitian toksisitas merupakan cara potensial untuk mengevaluasi :

  • Toksisitas yang berhubungan dengan pemberian obat akut atau kronis.
  • Kerusakan genetik (genotoksisitas atau mutagenisitas).
  • Pertumbuhan tumor (onkogenisitas atau karsinogenisitas).
  • Kejadian cacat waktu lahir (teratogenisitas).

Selain toksisitasnya, uji pada hewan dapat mempelajari sifat farmakokinetik obat meliputi absorpsi, distribusi, metabolisme dan eliminasi obat. Semua hasil pengamatan pada hewan tersebut menentukan apakah calon obat tersebut dapat diteruskan dengan uji pada manusia atau tidak. Ahli farmakologi bekerja sama dengan ahli teknologi farmasi dalam pembuatan formula obat untuk menghasilkan bentuk-bentuk sediaan obat yang akan diuji pada manusia.

Di samping uji pada hewan, untuk mengurangi penggunaan hewan percobaan telah dikembangkan pula berbagai uji in vitro untuk menentukan khasiat obat contohnya uji aktivitas enzim, uji antikanker menggunakan cell line, uji anti mikroba pada perbenihan mikroba, uji antioksidan, uji antiinflamasi dan lain-lain untuk menggantikan uji khasiat pada hewan. Akan tetapi belum semua uji dapat dilakukan secara in vitro. Uji toksisitas sampai saat ini masih tetap dilakukan pada hewan percobaan, belum ada metode lain yang menjamin hasil yang dapat menggambarkan toksisitas pada manusia.

Disamping itu, uji pada hewan percobaan ini juga dirancang dengan perhatian khusus pada kemungkinan pengujian obat itu lebih lanjut pada manusia atau uji klinis. Oleh karena itu, pada uji pra-klinis ini dirancang dengan pertimbangan :

  • Lamanya pemberian obat itu menurut dugaan kepada manusia.
  • Kelompok umur dan kondisi fisik manusia yang dituju, dengan pertimbangan khusus untuk anak-anak, wanita hamil atau orang lanjut usia.
  • Efek obat menurut dugaan pada manusia.

Setelah melewati uji pra klinis, maka senyawa atau molekul calon obat tersebut menjadi IND (Investigational New Drug) atau obat baru dalam penelitian. Setelah calon obat dinyatakan mempunyai kemanfaatan dan aman pada hewan percobaan maka selanjutnya diuji pada manusia (uji klinik).

Uji pada manusia. Uji klinis pada manusia harus diteliti dulu kelayakannya oleh komite etik mengikuti Deklarasi Helsinki. Uji klinik terdiri dari 4 fase yaitu :

Fase I, calon obat diuji pada sukarelawan sehat untuk mengetahui apakah sifat yang diamati pada hewan percobaan juga terlihat pada manusia. Pada fase ini ditentukan hubungan dosis dengan efek yang ditimbulkannya dan profil farmakokinetik obat pada manusia.

Fase II, calon obat diuji pada pasien tertentu, diamati efficacy pada penyakit yang diobati. Yang diharapkan dari obat adalah mempunyai efek yang potensial dengan efek samping rendah atau tidak toksik. Pada fase ini mulai dilakukan pengembangan dan uji stabilitas bentuk sediaan obat.

Fase III melibatkan kelompok besar pasien, di sini obat baru dibandingkan efek dan keamanannya terhadap obat pembanding yang sudah diketahui. Selama uji klinik banyak senyawa calon obat dinyatakan tidak dapat digunakan. Akhirnya obat baru hanya lolos 1 dari lebih kurang 10.000 senyawa yang disintesis karena risikonya lebih besar dari manfaatnya atau kemanfaatannya lebih kecil dari obat yang sudah ada. Keputusan untuk mengakui obat baru dilakukan oleh badan pengatur nasional, di Indonesia oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan, di Amerika Serikat oleh FDA (Food and Drug Administration), di Kanada oleh Health Canada, di Inggris oleh MHRA (Medicine and Healthcare Product Regulatory Agency), di negara Eropa lain oleh EMEA (European Agency for the Evaluation of Medicinal Product) dan di Australia oleh TGA (Therapeutics Good Administration). Untuk dapat dinilai oleh badan tersebut, industri pengusul harus menyerahkan data dokumen uji praklinik dan klinik yang sesuai dengan indikasi yang diajukan, efficacy dan keamanannya harus sudah ditentukan dari bentuk produknya (tablet, kapsul dan lain-lain) yang telah memenuhi persyaratan produk melalui kontrol kualitas. Setelah calon obat dapat dibuktikan berkhasiat sekurang-kurangnya sama dengan obat yang sudah ada dan menunjukkan keamanan bagi si pemakai maka obat baru diizinkan untuk diproduksi oleh industri sebagai legal drug dan dipasarkan dengan nama dagang tertentu serta dapat diresepkan oleh dokter.

Fase IV, setelah obat dipasarkan masih dilakukan studi pasca pemasaran (post marketing surveillance) yang diamati pada pasien dengan berbagai kondisi, berbagai usia dan ras. Studi ini dilakukan dalam jangka waktu lama untuk melihat nilai terapeutik dan pengalaman jangka panjang dalam menggunakan obat. Setelah hasil studi fase IV dievaluasi masih memungkinkan obat ditarik dari perdagangan jika membahayakan. Sebagai contoh cerivastatin suatu obat antihiperkolesterolemia yang dapat merusak ginjal, Entero-vioform (kliokuinol) suatu obat anti disentri amuba yang pada orang Jepang menyebabkan kelumpuhan pada otot mata (SMON disease), fenil propanol amin yang sering terdapat pada obat flu harus diturunkan dosisnya dari 25 mg menjadi tidak lebih dari 15 mg karena dapat meningkatkan tekanan darah dan kontraksi jantung yang membahayakan pada pasien yang sebelumnya sudah mengidap penyakit jantung atau tekanan darah tinggi, troglitazon suatu obat antidiabetes di Amerika Serikat ditarik karena merusak hati.

Penemuan obat baru chemotherapeutica (New Chemical Entity/NCE) saat ini cenderung mengalami penurunan, karena diberlakukannya syarat yang sangat ketat untuk dapat diterima, diregistrasi dan diijinkan beredar sebagai obat. Hal ini berlaku di negara-negara Eropa, Amerika Serikat dan negara-negara maju lainnya. Persyaratan ketat ini memerlukan penelitian farmakologi dan keamanan yang jauh lebih luas dan dengan sendirinya memerlukan biaya yang sangat tinggi. Jangka penemuan obat baru sejak awal ditemukan suatu bahan kimia baru sampai menjadi obat baru yang diijinkan beredar memerlukan waktu 10 – 12 tahun dan biaya penelitian tidak kurang dari USD 300 juta untuk tiap NCE.

Salah satu cara/inovasi yang dikembangkan di industri farmasi saat ini, terutama industri farmasi di negara-negara sedang berkembang adalah mengembangkan bentuk sediaan dengan sistem penghantaran obat yang baru (New Drug Delivery System/DDS), karena untuk penemuan senyawa obat baru diperlukan biaya yang sangat mahal sekali di mana tidak semua industri mampu melakukannya. Tujuan dari pengembangan DDS tersebut terutama ditujukan untuk perbaikan produk yang lama menghasilkan formulasi obat yang lebih manjur, aman, stabil, dapat diproduksi dalam skala besar dan konsisten, serta dengan biaya yang murah. Beberapa “inovasi” DDS yang telah dikembangkan oleh industri farmasi saat ini antara lain adalah:

1. Oral Drug Delivery

  • Rapid dissolving & taste making tablet, untuk mengatasi kesulitan pasien dalam menelan obat, terutama untuk anak-anak, orang lanjut usia serta pasien yang mengalami gangguan seperti kejang atau mual.
  • Controlled, sustained and chronomodulated release tablets, terutama ditujukan untuk mengurangi frekuensi pemakaian obat (dosing), meningkatkan kenyamanan pasien (pasien tidak perlu minum 3-4 kali sehari dan menghindari/tidak perlu adanya pemakaian obat pada malam hari).
  • Enhanced absorption technology, terutama ditujukan untuk pemakaian secara oral obat-obat macromolekul.

2. Injectable Drug Delivery

  • Needleless injection
  • Long acting/sustained release injection (matrix, PEGylation, depot)
  • Liposomal injection

3. Transmucosal Drug Delivery, contohnya Generex’s system, sebuah obat yang digunakan secara oral spray yang dilengkapi dengan metered dose. Contoh lain adalah Oralin, transoral insulin pertama.

4. Transdermal Drug Delivery, contohnya Hormone Replacement (testosterone, estradiol), Angina (nitroglycerin), Pain  relief (fentanyl), Hypertension (clonidine), Motion sickness (scopolamine), Smoking cessation (nicotine), Depression (selegiline), ADHD (methylphenidate), CNS disorder (rotigotine).

Perkembangan Bentuk Sediaan Obat (BSO)

Agar dapat digunakan pasien secara aman, mudah, nyaman, efisien dan memberikan efek terapi yang optimal, bahan aktif (obat) harus diberikan dalam Bentuk Sediaan Obat (BSO). Bentuk Sediaan Obat dapat mengandung satu atau lebih komponen bahan aktif. Pada formulasi bentuk sediaan obat juga diperlukan berbagai macam bahan tambahan (excipient). Macam bahan tambahan tersebut sangat tergantung dari macam bentuk sediaan yang akan dibuat. Syarat utama suatu bahan agar dapat digunakan sebagai bahan tambahan adalah bahwa bahan tersebut harus memiliki sifat yang netral (inert).

Manfaat bentuk sediaan obat antara lain, adalah: (1) menutupi rasa pahit atau tidak enak dari bahan obat (bahan berkhasiat), (2) menjaga stabilitas bahan obat, (3) meningkatkan ketaatan penggunaan obat oleh pasien, dan (4) memberikan kerja obat yang optimal dan aman.

Secara garis besar, berdasarkan bentuk sediaannya, obat dapat digolongkan menjadi 4 macam, yaitu :

  1. Bentuk sediaan padat. Contoh dari bentuk sediaan ini, antara lain: pulvis (serbuk tidak terbagi), pulveres (serbuk terbagi), tablet, tablet salut, dan kapsul keras serta kapsul lunak
  2. Bentuk sediaan cair. Contoh dari bentuk sediaan ini, antara lain: solutio (sirup), suspensi, dan emulsi
  3. Bentuk sediaan semi (setengah) padat. Contoh dari bentuk sediaan ini antara lain: unguentum (salep), cream, jel, dan pasta.
  4. Bentuk sediaan khusus. Contoh bentuk sediaan khusus ini antara lain: injeksi, supositoria, ovula, inhaler, aerosol, sediaan transdermal, dan lain-lain

Agar efek terapi yang optimal dapat terwujud, maka pemilihan bentuk sediaan obat harus benar-benar dipertimbangkan dengan cermat dan hati-hati. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam pemilihan bentuk sediaan, antara lain: (1) bioavalabilitas obat, yaitu nilai kecepatan dan jumlah obat yang dapat sampai ke sirkulasi sistemik, (2) kondisi penyakit, yang berkaitan dengan tujuan penggunaan sediaan obat itu sendiri, apakah diperlukan pemberian secara sistemik atau lokal.

Pemberian obat melalui mulut (per-oral) merupakan cara pemberian yang paling utama untuk memperoleh efek sistemik. Lebih dari 90% obat untuk sistem sistemik diberikan secara per-oral. Bila suatu obat baru ditemukan, perusahaan farmasi mula-mula akan menanyakan apakah obat tersebut dapat efektif seperti yang diharapkan bila diberikan melalui mulut. Namun demikian, salah satu tantangan terbesar para ahli dan peneliti bidang teknologi formulasi sediaan obat, terutama untuk sediaan per-oral adalah upaya untuk meningkatkan ketersediaan hayati (bioavailabilitas), terutama untuk obat-obat yang memiliki kelarutan kecil atau bahkan sukar larut.

Beberapa teknologi formulasi sediaan obat sebagai upaya yang sudah dikenal untuk meningkatkan bioavailabilitas antara lain: pendekatan pro-drug, pembentukan garam, kompleksasi, perubahan bentuk fisik obat, metode dispersi padat, dan pemanfaatan bahan pembawa (carrier) serta pengecilan ukuran partikel. Saat ini, tengah dikembangkan suatu sistem penghantaran obat terbaru yaitu dengan penggunaan Nano Teknologi (Nanotech) sebagai sistem penghantaran obat masa depan.

Nano teknologi adalah pemahaman dan pengaturan materi dengan dimensi 1 sampai 100 nanometer (nm). Nano teknologi mencakup teknologi rekayasa, penginderaan, pengukuran, pembuatan model dan manipulasi materi pada skala nanometer. Satu nanometer (nm) sama dengan sepermilyar meter (10-9 m). Para ahli riset farmasi saat ini meneliti dalam skala mikro dan nano untuk mengembangkan metode drug delivery (penghantaran obat). Nano Teknologi merupakan terobosan untuk mengoptimalisasi sistem penghantaran obat. Dengan pengolahan obat ke skala nano, maka obat-obat yang sukar larut akan lebih bioavailable dan lebih aman. Selain perbaikan kelarutan, obat-obatan yang berbasis nanoteknologi memiliki kelebihan dibandingkan obat-obatan lainnya. Sebagai contoh, obat-obatan berbasis nano teknologi memberikan performa lebih baik dengan efek samping yang lebih minimal. Reseptor tertentu pada permukaan sel target akan lebih mudah mengenali obat sehingga obat akan lebih tepat sasaran dan meminimalkan efek samping obat pada sel-sel lain.

Pengembangan DDS dengan Nano Teknologi

Nano teknologi merupakan ilmu pengetahuan yang bertujuan mengendalikan molekul dan atom individu untuk menciptakan peralatan yang beribu kali lebih kecil. Institut Nano Teknologi di Inggris mengekspresikan bahwa critical role dalam sains dan teknologi nano mencakup dimensi dan toleransi antara 0,1 – 100  nano meter (nm). Sebagai perbandingan, jarak karbon C60 sekitar   12 – 12 nm, DNA double-helix mempunyai diameter sekitar 2 nm, dan bacteri Mycoplasma ukuran lebarnya sekitar 200 nm.

Istilah Nano teknologi pertama kali disampaikan oleh Ricard P. Feynman’s pada tahun 1959, selanjutnya dikreasikan oleh K. Eric Drexler tahun 1986 dalam bukunya “Engines of Creation”. Sementara di Asia, Nano technology dikembangkan oleh Prof. Norio Taniguchi dari Tokyo Science University di tahun 1974, dalam tulisan ilmiah yang disampaikannya yaitu “On The Basic Concept of Nano-technology”, pada Japan Society of Precision Engineering. Sementara dalam dunia kefarmasian, “nano teknologi” sebenarnya sudah digunakan oleh para ahli formulasi semenjak tahun 1970-an. Contohnya adalah teknik-teknik untuk mendapatkan “Nano-emulsi” dan “Nano-encapsulasi”. Namun demikian penerapan langsung ilmu pengetahuan nano yang berkaitan dengan “kemampuan untuk memanipulasi dan mengatur partikel pada ukuran nano” baru pada dekade terakhir ini menjadi bagian dari proses pengembangan dan banyak menimbulkan harapan dalam penggunaannya di masa depan dalam penghantaran obat langsung ke sasaran (targeted drug delivery).

Beberapa teknik yang digunakan oleh industri farmasi saat ini untuk memperkecil ukuran partikel dan mengatur partikel ke ukuran yang diinginkan dalam kondisi terkontrol diantaranya adalah Milling (basah dan kering), supercritical fluid technology, spray drying, metode presipitasi dan rekristalisasi.

Milling atau penggilingan adalah teknik yang telah lama digunakan untuk memperoleh partikel berukuran mikro atau nano. Teknik milling dilakukan baik secara kering (dry milling) maupun tersuspensi dalam cairan (wet milling). Milling tetap merupakan pilihan yang populer karena lebih ekonomis, lebih cepat dan mudah untuk di-scale up. Dry milling yang dapat menghasilkan partikel dibawah ukuran 50 mikron biasa disebut mikronisasi. Mikronisasi diperoleh dari tumbukan antar partikel atau tumbukan partikel dengan medianya. Banyak zat obat-obatan yang dapat diproses menggunakan dry milling. Hal penting yang harus diperhatikan ketika melakukan dry milling adalah ukuran partikel yang ingin diperoleh, karakter fisik, jumlah dan faktor keamanan dari materi yang akan ditumbuk. Metode wet milling digunakan untuk memperoleh partikel padat yang berukuran dibawah 1 mikron sampai ke ukuran 50 – 150 nm. Metode ini dapat juga digunakan untuk obat-obatan yang sukar larut dalam air dan dapat menghasilkan obat-obatan dengan ukuran partikel 100 – 200 nm. Kisaran ukuran yang demikian cocok digunakan untuk obat inhalasi dan injeksi. Penambahan zat penstabil diperlukan untuk mencegah penggumpalan kembali partikel terlarut.

Super Critical Fluid (SCF) Technology, merupakan pengembangan dari metode presipitasi yang sudah lama dikenal dalam metode pengecilan partikel. Kelebihan metode ini dibanding dengan metode penggilingan (milling) dan rekristalisasi adalah dihasilkannya nano-particles yang lebih murni dan memiliki efek terhadap lingkungan yang lebih baik. Secara sederhana prinsip pembuatan nano-particles dengan metode ini adalah bahwa kelarutan bahan-bahan obat sangat tergantung dari besarnya tekanan dan suhu larutan. Tekanan diperoleh dengan cara memberikan gas CO2 ke dalam sistem larutan tersebut. Selanjutnya campuran obat dengan gas CO2 tersebut kemudian disemprotkan untuk menghilangkan gas CO2-nya sehingga diperoleh partikel dengan skala mikro atau nano.

Obat-obat Berbasis Nano Technology

Damge, et.al. (1988) melaporkan bahwa Insulin Encapsulated dalam PBCA (Polyisobuthylcyanoacrylate), suatu nano partikel dalam polimer, dapat mengurangi Glycemia sebesar 50 – 60%, sementara insulin dalam bentuk bebas, tidak memberikan efek Glycemia jika diberikan secara oral. Sakuma S, Suzuki N, Kikuchi H, et al. (1997) dalam makalahnya “Oral peptide delivery using nanoparticles composed of novel graft copolymers having hydrophobic backbone and hydrophilic branches”, menyebutkan bahwa Salmon Calcitonin (sCT) yang diberikan dalam bentuk nano partikel dalam PNIPAAm (Poly[N-isopropylacrylamide]) terjadi peningkatan bioavailabilitas yang sangat signifikan jika dibandingkan dalam bentuk bebas, dalam memberikan efek hypoglycemia. Selain itu penggunaan nano partikel ini juga menjadikannya lebih stabil terhadap enzim pencernaan. Saat ini telah tersedia dipasaran beberapa partikel nano dan mikro yang diharapkan mampu menjawab berbagai tantangan dalam sistem penghantaran obat, terutama yang berkaitan dengan kelarutan suatu obat. Berikut adalah beberapa obat yang dibuat dengan Nano teknologi dengan beberapa keunggulannya dan telah dipasarkan di seluruh dunia. Beberapa obat anti kanker, saat ini juga dalam tahap penelitian dan pengembangan menggunakan teknologi Nano.

Emend® merupakan obat antiemetic yang terdapat dalam bentuk kapsul oral yang biasa digunakan bersamaan dengan chemotherapy. Emend® merupakan nano crystallin particles yang dikembangkan oleh Merck & Co., Inc. Amerika Serikat dengan teknology nano dan telah memperoleh persetujuan US FDA pada tahun 2003. Teknologi ini mampu secara signifikan meningkatkan kecepatan disolusi dan bioavailability yang dibutuhkan oleh obat-obat yang digunakan dalam chemotherapy. Rapamune® merupakan obat immunosuppressant yang dapat diberikan secara per-oral. Rapamune® dikembangkan oleh Wyeth-Ayerst Laboratories, Amerika Serikat dengan menggunakan nano technology, dan merupakan Rapamicyn (immunosuppressant) pertama yang dapat diberikan secara per-oral. Sebelumnya, Rapamicyn hanya tersedia dalam bentuk larutan dan harus disimpan dalam kondisi beku. Abraxane® merupakan obat kanker yang dikembangkan oleh American Bioscience inc., dan American Pharmaceuticals Partnerts, Inc., serta telah mendapat persetujuan US FDA pada tanggal 7 Januari 2005 sebagai obat kanker payudara. Kelebihan obat yang dikembangkan dengan teknologi nano ini dibandingkan dengan Paclitaxel lain adalah toleransi dosis yang lebih baik, dimana penggunaan Abraxane® tanpa harus dilakukan pemberian steroid terlebih dahulu, seperti halnya obat-obat kanker payudara lainnya. Sedangkan Rexin-G® merupakan obat anti kanker pankreas yang dikembangkan oleh Epeius Biotechnology Corp., yang menggunakan teknologi nano partikel dan telah disetujui oleh US FDA pada 15 Agustus 2003 untuk pengobatan kanker pankreas. Dibandingkan dengan obat sejenis, obat ini memiliki efektifitas yang jauh lebih baik dalam pengobatan penyakit kanker pankreas karena memiliki kemampuan “mengenali” reseptor target yang lebih baik.

Dewasa ini aplikasi Nano teknologi dalam bidang pengobatan tidak terbatas pada pemrosesan partikel obat-obatan untuk meningkatkan kelarutan, bioavailabilitas maupun ekskresi obat saja, namun juga dikembangkan ke arah pengembangan perlengkapan, mesin atau alat berukuran nano yang berguna untuk pengobatan atau yang lazim disebut dengan nano-medicine. Salah satu penggunaan nano teknologi yang saat ini telah dikenal luas adalah aplikasi atom C60, yang lebih dikenal dengan buckyball, sebagai model untuk riset-riset skala nano. Hingga bulan April 2004, sesuai laporan majalah Nature Materials memperkirakan sekitar 130 nano-tech bidang farmasi sedang dikembangkan oleh berbagai industri farmasi di dunia. Majalah tersebut juga melansir, pada tahun 2004 saja, dari pemanfaatan nano-medicine oleh lebih 200 industri farmasi di  seluruh dunia mampu meraup 6,8 milyard dolar, dan sekitar 3,8 milyard dolar dikeluarkan setiap tahunnya untuk pelaksanaan riset di bidang nano technology. Yang paling utama dalam penemuan ini adalah pengembangan bahan-bahan yang disebut dengan nano-particles dan pengujian bioavailability molekul dengan mengamati penyerapan molekul obat agar dapat diserap secara maksimal oleh tubuh. Dari pengalaman selama ini, para industriawan farmasi di Eropa memperkirakan lebih dari 65 Milyard dolar dari pemakaian obat menguap begitu saja sebagai akibat dari penggunaan obat yang tidak efektif sebagai akibat kurang memanfaatkan bioavailability obat.

Pustaka

  • ———, 2007, A health check-up for global pharma, in Biospectrum, Asia Edition, Vol. 2.
  • ———, 2007, Nanotech Dalam Industri Kesehatan, dalam Pharma Magazine, Vol. 1 Edisi kelima.
  • Gennaro, A., R., Remington: The Science and Practice of Pharmacy, 20th Edition, Lippincott Williams & Wilkins, Maryland USA.
  • Gupta, R.B., Kompella, V.B. (ed.), 2006, Nanoparticle Technology for Drug Delivery, Taylor & Francis Group, New York, USA
  • Merkle, R.C., 2005, Nanotechnology and Medicine, Alcor Life Extention Foundation, USA.
  • Priyambodo, B., 2007, Manajemen Farmasi Industri, Ed. 1, cetakan 1, Penerbit Global Pustaka Utama, Yogyakarta
  • Sakuma S, Suzuki N, Kikuchi H, et al., 1997, Oral peptide delivery using nanoparticles composed of novel graft copolymers having hydrophobic backbone and hydrophilic branches, Int J. Pharm, 149:93–106.
  • Widjanarko, P., 2007, Masa Depan Nano Tech Bagi Pengembangan Obat dan Bidang Pengobatan, dalam Pharma Magazine, Vo. 1 Edisi Keenam.
  • Damge, C., Michel, C., Aprahamian, M., Couvreur P., 1988, New approach for oral  Administration of insulin with polyalkylcyanoacrylate nanocapsules as drug carriers. Diabetes; 37: 246–251.

*)   Disampaikan dalam “Penataran dan Uji Kompetensi Apoteker (PUKA)”, Hotel Dana Surakarta    1 Februari 2008

**)  Bambang Priyambodo, Production Manager PT. Berlico Mulia Farma Yogyakarta

About Ahmad Subagiyo Apoteker

Apoteker
This entry was posted in Farmasi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s